Global Protective Service

Kami berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik kepada pelanggan kami. Hubungi kami untuk menyesuaikan solusi untuk kebutuhan keamanan anda. Global Protective Service (GPS) mengikuti proses yang sederhana dalam praktek layanan kami. Kami hanya merekrut dan mempertahankan staf yang berkualitas tinggi dengan keberanian, kehormatan, disiplin dan Trust dan etos kerja yang terbukti. Banyak staf kami telah direkrut dari perusahaan keamanan lainnya, masing-masing tertarik dengan tingkat tinggi kami membayar dan pelatihan karyawan programs. Setiap calon akan diperiksa dan harus lulus pemeriksaan latar belakang, wawancara dan pengujian lainnya sebelum kerja dengan GPS.

Minggu, 20 Maret 2011

Teroris Bangun Jaringan Baru

Sejumlah gembong teroris di Indonesia sudah ditembak mati, namun bukan berarti sel-sel jaringan tersebut terputus. Polisi menduga penebar teror bom buku adalah pemain lama yang ingin menunjukkan eksistensinya.
Petugas Densus 88 Polri kini tengah mengorek keterangan sejumlah tersangka teror bom yang kini ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Sutarman memastikan pelaku penabar teror adalah kelompok teroris. “Namun dari mana kelompok itu, siapa pelakunya serta apa motifnya belum bisa kita simpulkan karena masih dalam penyelidikan,” kata kapolda, Selasa (16/3).
Sedangkan sebuah sumber di kepolisian
menyebutkan, tak tertutup kemungkinan para pemain lama, antara lain kelompok teroris Aceh yang sebagian belum tertangkap terkait dalam kasus ini. Apalagi saat ini tengah digelar sidang kasus terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, terkait kelompok teroris Aceh.
Indikasi lain yang menunjukkan pelaku adalah pemain lama, bom buku itu meski hanya mengandung bahan peledak low explosive, namun dirakit secara profesional. Perbedaan dengan bom yang selama ini biasa digunakan, hanya pada cara merakit serta campuran bahan peledak dimana pada bom buku dilengkapi pegas yang bila ditarik akan meledak. Perbedaan pola ini, lanjut sumber itu, hanya untuk mengecoh petugas.
Untuk melacak pelaku, selain mengorek keterangan para tahanan di sel Mako Brimob, polisi kini terus menggiatkan pengejaran terhadap tersangka teroris yang belum tertangkap yang diduga telah membangun jaringan baru dengan merekrut orang-orang baru.
Petugas juga melacak dua pria pengantar bom yang dikirim untuk Ulil Abshar Abdalla, Komjen Gories Mere dan Japto Soerjosoemarno. Ciri kurir pengantar paket bom buku itu diketahui dari sejumlah saksi yang sempat melihat pria kurir bom.
BERJAKET HITAM
Menurut Kabag Penum Mabes polri, Kombes Boy Rafli Amar, pengirim bom buku ke Japto adalah seorang pria yang tak terlihat wajahnya. Soalnya, kurir memberikan barang itu ke pos satpam tanpa mencopot helm yang menutupi wajahnya.
“Tubuhnya juga lebih tinggi dari kurir yang mengantar ke Utan Kayu dan BNN,” ungkapnya.
Pengantar bom buku untuk Ulil dan Gories, sambungnya, datang menggunakan motor. Ia berjaket hitam, mengenakan topi warna gelap serta tak berseragam perusahaan jasa pengiriman barang. Usai menyerahkan paket buku, pria itu tak meminta tanda terima tanda terima. “Pengirim paket itu laki-laki berusia sekitar 30 tahun. Saat ini keterangan saksi dan rekaman CCTV masih diselidiki Tim Densus 88 Mabes Polri,” katanya. “Tapi bisa saja dia hanya kurir biasa yang tak tahu barang yang dikirimnya.”
POLA SAMA
Tiga bom buku yang dikirim untuk Ulil, Gories dan Japto berpola sama, yakni meminta orang yang dituju menulis kata pengantar dalam buku tersebut.
Buku untuk Ulil dan Gories berjudul sama yang dikirim oleh nama dan alamat yang sama. Sejauh ini, pelacakan polisi pengirim bom buku ke dua orang itu fiktif. Nama Drs. Sulaiman Azhar, beralamat di Jl. Bahagia, Gang Pnser No. 29, Ciomas, Bogor, tak ada.
Sedangkan buku yang dikirim untuk Japto judulnya terkait dengan Pancasila dan dikirim oleh Busro Jahul beralamat di Jl. Cikarasa, No. 29, Bogor. Polisi juga belum berhasil menemukan alamat tersebut.
TANPA GOTRI
Hasil pemeriksaan laboratorium, ketiga jenis bom buku, lanjut Boy, memiliki bahan yang sama. Perakitnya menggunakan campuran potasium dan alumunium yang bisa dibeli di secara bebas dan biasa dibeli nalayan. “Sisanya serpihan dan sisa kabel. Tak ada gotri karena tak ada baret dan sisanya di lokasi ledakan,” ungkapnya.
“Bom ini hanya untuk mengecoh sasaran dan dikemas secara rapi dan unik sehingga penerima tidak curiga. Namun bila baterai dicabut akan menimbulkan ledakan.”
Di tempat terpisah, Kabareskrim Komjen Ito Sumardi meminta petugas untuk mentaati prosedur pengamanan. “Bom atau masalah bahan peledak seharusnya ditangani petugas Jihandak bukan sembarang petugas,” tegasnya. “Kejadian yang melukai petugas ini harus menjadi introspeksi agar jajaran Polri taat prosedur.”
TETAP BEKERJA
Sehari pasca ledakan, karyawan Radio KBR 68 H bekerja seperti biasa. Juru Bicara KBR 68, Ade Wahyudi, kepada wartawan mengatakan akan memperketat keamanan di tempat kejadian. “Para karyawan kami kumpulkan tadi pagi. Kami menyadari lemahnya sistem keamanan dan akan memperketatnya agar kejadian serupa tak terulang,” katanya.
Hal sama dilakukan terjadi di BNN. Karyawan tetap bekerja seperti biasa. Sejumlah petugas Densus bersenjata lengkap berjaga di depan gerbang dan pintu masuk gedung.
KAPOLRES DIKUMPULKAN
Untuk mengantisipasi ledakan susulan serta melacak jaringan teroris, tadi malam Kapolda Metro Jaya mengumpulkan seluruh kapolres di Mapolda Metro Jaya. Dalam pertemuan tertutup itu dibahas tentang antisipasi teror bom yang kini mulai lagi menghantui Jakarta. Kapolres diminta meningkatkan kewaspadaan di wilayah masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar